Tuesday, January 20, 2015

Mengapa Harus Ada Sekolah Unggulan?

Saya pernah berdiskusi dengan seseorang tentang sekolah. Pada saat itu saya masih duduk di salah satu SMA (yang katanya unggulan) di Jakarta. Ada sesuatu yang menggelitik pada perbincangan kami. Beliau - sebut saja namanya Pak Haryo - membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan, "Mengapa harus ada 'Sekolah Unggulan'? lalu mengapa ada sekolah yang akhirnya secara tidak langsung menjadi 'Tidak Unggulan' atau kasarnya 'Cadangan' karena keberadaan 'Sekolah Unggulan' tersebut?". Pertanyaan Pak Haryo nampaknya tak perlu saya jawab karena ia yang seorang dosen pasti lebih tahu jawabannya daripada saya.

Pak Haryo menjelaskan layaknya dosen S1, dan seperti anak yang masih cetek pikirannya, saya seperti diberi opini-opini baru olehnya. Ia menerangkan sekolah sebagai suatu mekanisme proses pembelajaran dengan input manusia-tak-tahu lalu menghasilkan output manusia-tahu. Lalu beliau memberikan pengandaian suatu pabrik kain. Dalam alur produksi kain, untuk menghasilkan output kain-kain berkualitas, maka kita memerlukan input kapas dan serat-serat berkualitas tinggi ditambah dengan teknologi mesin pemintal dan tenun mutkahir. Ya, tentu saja saya sangat setuju dan mengangguk saat itu. Tak ada yang meragukan pernyataannya. Penjelasannya berlanjut, "Lalu apakah manusia seperti itu? Apakah sekolah seperti pabrik kain?". Kalau dipikir memang sekolah seperti pabrik, "pabrik pemikiran", tetapi alurnya tidak bisa disamakan.

Unggulan menurutnya terletak pada proses pendidikan itu sendiri. Bukan input manusianya. Jadi sekolah unggulan seharusnya mampu memproses, mendidik, menggembleng berbagai macam input jenis manusia menjadi output manusia yang unggul. Kalau perlu dikatakan, sekolah yang paling unggul adalah sekolah yang memiliki siswa-siswi yang tidak pintar, untuk selanjutnya dididik menjadi pintar atau bahkan unggul. Bukankah begitu gunanya sekolah? Untuk mendidik. Lalu kalau ada sekolahan mengambil anak-anak yang sudah pintar, itu namanya bukan sekolahan. Sekolah itu hanya cari laba dari anak-anak pintar. Laba dalam artian kekayaan intelektual siswa-siswinya maupun uang. Alih-alih menjadi lebih unggul dan excellent, mereka - yang sudah pintar ini - justru terhambat kecerdasannya dan bahkan menjadi "bodoh" di sekolahnya.

Wah, benar juga ya.. Tak pernah terpikir oleh saya tentang hal ini. Too good to be true sepertinya, seperti tak mungkin ada sekolah seperti itu. Butuh gembelengan dan didikan dengan cara khusus dan berbeda dari biasanya. Seandainya ada sebuah sekolah atau setidaknya sebuah proses pendidikan di Indonesia yang bisa menggembleng anak-anak dari Sabang sampai Merauke menjadi sama unggulnya, maka tidak ada lagi anak kota yang lebih pintar dari anak pedalaman. Semua sama unggulnya.

Saya jadi teringat sebuah film Jepang berjudul "Gokusen". Film ini ber-genre drama dan komedi dan sangat inspiratif sekali. Bercerita tentang seorang anak wanita dari sebuah keluarga Yakuza (mafia jepang) yang tidak mau meneruskan pekerjaan keluarganya sebagai mafia, tetapi ia memutuskan untuk menjadi guru SMA. Ia ditempatkan pada sekolah anak-anak nakal dan bandel, sering bolos sekolah, berkali-kali tidak naik kelas, suka tawuran, nilai selalu buruk, dan lulusannya tidak pernah diterima di universitas terbaik di Jepang. Tentunya sekolah tersebut bukanlah sekolah unggulan. Namun dengan kerja kerasnya, karakternya yang kuat, gigih, dan mau ikut menyelesaikan masalah muridnya satu per satu, bahkan ikut tawuran melawan geng rival sekolah tersebut karena memang pintar bela diri, akhirnya murid-murid didikannya menjadi berprestasi, lulus seluruhnya, dan mampu mengantarkan mereka merealisasikan harapannya yang dahulu dipikir sangat tidak mungkin. Inspiratif bukan?

Begitu banyak harapan akan guru berkarakter kuat seperti tokoh utama pada film tersebut di Indonesia. Di SMA saya dahulu saja ada guru yang malas mengajar. Masuk kelas hanya memberi tugas membuat teka teki silang - padahal itu pelajaran biologi - lalu kami diminta untuk mengumpulkan tugas tersebut pada pertemuan berikutnya, selepas itu guru tersebut pergi lagi. Ya, pergi, jadi beliau hanya datang untuk beri tugas, tidak mengajar. Ah, dimana unggulannya? Sulit rasanya karena ini masalah karakter, tapi saya masih optimis, karena beberapa pendidik di Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Seperti contohnya, Bapak Yohannes Surya, penggembleng anak-anak calon peserta olimpiade fisika internasional itu pernah mendidik beberapa anak papua yang setiap hari main di hutan dengan pakaian ala-kadarnya menjadi pemenang olimpiade fisika (beritanya bisa Anda simak dalam laman Republika berikut).


Friday, January 9, 2015

Suriye Misin? - Apa Kamu Orang Suriah?

Beberapa kali saat kami sedang bermain bersama di taman depan rumah, saya mencoba bertegur sapa dengan ibu-ibu Turki yang saya jumpai juga sedang menemani gadis kecilnya bermain. Sebagaimana berbasa-basi sambil menjalin keakraban sekaligus mengasah bahasa Turki saya. Nyatanya harapan saya tidak selalu seperti yang diinginkan, artinya saya tidak selalu disambut dengan ramah. Terkadang kami menerima wajah aneh dan tekesan jutek dari mereka, daripada senyumannya.

Namun ada juga ibu-ibu lain yang saya sapa dan membalas sapaan saya. Anehnya, mereka kerap kali memulai pertanyaannya dengan, "Suriyeli?" / "Surie?"- "Apa kamu orang Suriah?" / "Suriah?". Bahkan pegawai kasir supermarket di dekat rumah-pun bertanya seperti itu juga. Wah.. wah.. apakah wajah saya yg sawo matang dan hidung berjongkok ini tidak cukup untuk menjawab ya? hehe.. Syukurlah ada yg mengira saya orang Malaysia; yang artinya hampir tepat, walaupun ada pula yang menebak Cina, Jepang, TTarTar, dan Kazaksthan.

Teman saya yang sedang kuliah tingkat akhir di Konya, sebut saja namanya Mbak Sholih, kemarin bercerita saat makan bersama di rumah. Ternyata baru beberapa tahun belakangan ini saja penerimaan warga Konya terhadap para yabancı (orang asing) itu kurang ramah. Padahal (aslinya) orang Turki itu sangat ramah terhadap musafir atau pendatang. Namun, sejak mulainya gelombang besar imigran Suriah ke Turki, sekitar tahun 2011, tidak demikian lagi halnya. Begitu ujarnya.

Saya jadi mengerti mengapa banyak yang bertanya apakah saya orang Suriah atau bukan, karena saat ini orang turki hanya mengenal para yabancı itu 'suriah' atau 'bukan-suriah'. Sebagai gambaran saja, imigran Suriah itu ada 1.6 juta orang di Turki. Ini setara dengan 16 kali kapasitas Stadion GBK Jakarta. Jumlah yang fantastis, bukan?

Kewajiban sebagai tuan rumah (Turki) bahwa imigran Suriah itu perlu dibantu adalah sangat benar. Namun, kenyataan sepertinya tidak berkata demikian. Para imigran Suriah ini bukan lagi "dianggap" sebagai musafir, mereka datang sebagai tamu yang "tidak mau" pulang - karena situasi dan kondisi negara Suriah yang belum kondusif pasca perang, yang akhirnya mau-tidak-mau harus hidup menetap bersama. Sayangnya, efek yang muncul di permukaan dari kejadian ini lebih banyak sentimen negatif daripada positifnya. Banyak efek sosial yang terjadi. Sebagai contoh saja, dulu warga Turki dilarang berjualan di pinggir jalan oleh pemerintah, tetapi sekarang banyak imigran Suriah yang melakukannya dan tidak didenda oleh pemerintah. Di satu sisi mereka (para imigran) perlu bekerja dan tetap mendapatkan penghasilan, tetapi berbenturan dengan peraturan. Cerita lainnya, ada orang-orang Suriah yang tidur di taman-taman umum karena tidak memiliki tempat tinggal. Beberapa diantara mereka ada yang merusak dan mengotori fasilitas atau tempat umum, ada pula yang menjadi pengemis, bahkan pencuri.

Walaupun demikian, saya yakin masih banyak orang-orang Suriah yang baik, mau menjaga tata krama, dan ketertiban di negara Turki ini. Seperti salah satu keluarga Suriah yang tinggal tidak jauh dari apartemen kami. Mereka ada keluarga terpelajar, rumahnya bersih dan rapih, dan agama islamnya kuat. Saya juga pernah diceritakan, ada orang Suriah yang menjadi guru bahasa Turki di tempat kursus di pusat kota.

Mungkin kejadian ini sebagaimana ada dalam pepatah Indonesia; "karena nila setitik rusak susu sebelanga". Hanya karena kesalahan kecil yang nampak seluruhnya menjadi rusak dan kacau.

Thursday, January 8, 2015

A Housewife Check-List: Persiapan Untuk Tinggal Di Luar Negeri

Assalammu'alaikuum..

“Pindahan”, satu kata itu selalu membuat kita sibuk dan lelah. Betapa tidak, proses sejak mencari rumah, apartemen, atau kost baru, men-survei-nya, hingga deal dengan pemilik-nya itu membutuhkan waktu, dana, dan energi yang tidak sedikit. Setelah deal, kita perlu boyongan barang-barang dari tempat awal ke rumah/kost/apartemen yang baru. Ada yang bawa truk pick-up kecil, ada yang pakai truk besar, mobil pribadi, atau hanya taksi, tetap boyongan itu tidak bisa dihindari. Belum lagi suka-duka beradaptasi hidup di tempat baru tersebut, bertemu dengan tetangga baru, teman kost baru, dan lingkungan yang begitu berbeda. Walaupun begitu, ada suatu keasyikan atau gairah tersendiri yang dirasakan karena akan bertemu dengan suasana yang sangat berbeda. Selain itu, “pindahan” ini akan menjadi hal yang mengesankan dalam hidup karena hanya sesekali saja kita melakukannya – seumur hidup kita mungkin bisa dihitung dengan jari. Saya sendiri baru melakukannya 3 kali, yaitu; 1) saat pertama kali kost di Depok untuk kuliah S1 dan kembali lagi ke rumah orang tua 4.5 tahun kemudian, 2) saat tinggal di rumah kontrakan baru selepas menikah dan akhirnya kembali lagi ke rumah orang tua, dan 3) saat pindah ke Turki menemani suami studi S3. Wah, pindah ke Turki, bagaimana persiapannya? Nah, topik tentang “pindahan” ke luar negeri inilah yang akan saya bahas pada artikel kali ini. Pindahan kali ini kita bukan lagi membicarakan mengendarai mobil, truk, atau taksi, melainkan menggunakan pesawat terbang. Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Awalnya, saya benar-benar tidak punya referensi yang memadai untuk mempersiapkan kepindahan ke Turki. Mulai dari mengurus visa, tiket pesawat, check-up kesehatan, sampai urusan isi koper, kami coba bertanya sendiri dan mempersiapkannya dengan tangan kami sendiri. Berbekal informasi dari web dan teman-teman yang sudah pernah tinggal di luar negeri, alhamdulillaah kami bisa menjalaninya dengan lancar, walaupun memang ada masanya kami merasakan begitu hectic bin repot.

Buatlah Check-List Untuk Pindahan Anda
Logistik yang saya tulis di bawah ini salah satu yang paling banyak adalah berhubungan dengan urusan dapur dan makanan karena salah satu aktivitas saya sehari-hari adalah mengurusi makanan untuk suami dan anak :) (as you know, you are reading a housewive blog, yeay!), maklum saja, kami di sini masih begitu asing dengan makanan lokal dan bisa dibilang tidak berselera apalagi untuk 3 bulan pertama kehidupan kami di Konya, Turki, terlebih untuk gadis kecil kami yang lidah-nya begitu njowo. Pada akhirnya, kami packing begitu banyak dan berat, and a very heavy packing ever, kira-kira hampir 80 kg untuk bagasinya saja, belum lagi bawaan di kabin, and it's free yah karena kami terbang ber-3. Memang antara "pindahan" dan traveling itu beda jauh... Serasa semuanya penting dan harus dibawa. Referensi lain terkait dengan barang bawaan bisa Anda cek juga di blog teman saya disini. Berikut ini adalah runutan dan check-list apa saja yang telah kami lakukan dan siapkan untuk “pindahan” ke Turki (silakan buka laman blog ini dari komputer agar bisa lebih jelas untuk dibaca):

Thursday, January 1, 2015

Resep Lumpia Isi Ragout Praktis

Asslammu'alaikuum...

Salam untuk para pembaca yang budiman...

Saya kembali memasak di dapur dengan resep seadanya. Kali ini saya buka freezer di kulkas dan menemukan banyak sekali kulit lumpia. Entah pemberian siapa, yang jelas itu adalah "warisan" bahan masak dan bumbu yang memang lumayan banyak (termasuk bumbu kokita kemiri yang saya pakai sebagai bahan memasak sayur lodeh, resepnya klik disini). Namun, setelah saya lihat tanggal kadaluarsa dari kulit-kulit lumpia itu, 25 Oktober 2014 saya langsung berpikir ini harus segera ditindaklanjuti, alias dimasak, karena akan segera kadaluarsa. :)

Akhirnya saya terpikir untuk membuat lumpia berisikan ragout, alias mash potato.. Berbekal googling web sana-sini, akhirnya merumuskan ide sebagai berikut:

Sunday, October 26, 2014

Saya, Kamu, Kita Ndeso! Yes!

Saya kenal dengan seseorang yang mengukur tingkat ndeso dan tidak-ndeso-nya seseorang dari kemampuannya berbahasa Inggris. Sekilas begitu memang yang populer di Indonesia. Supaya up to date, go international, dan mengglobal katanya. Bahkan harga produk bisa naik jika kita menamakannya dengan bahasa Inggris. (Pijat Wajah: Rp 15.000, Face Massage: Rp 85.000). Agak konyol ya, but thats true!!

Oke balik lagi soal tingkat ke-ndeso-an. Awalnya saya ditanya oleh orang tersebut, "Apa orang-orang Turki di sana bisa bahasa Inggris?". Saya jawab bahwa mayoritas orang-orang Turki di Konya berbahasa Turki, sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris. Kalau daerah metropolitan seperti İstanbul atau Ankara mungkin banyak yang bisa bahasa Inggris, karena selain kota besar di sana juga kota pariwisata. Jawabanku langsung disambut dengan timpalan yang mengagetkan, "Wah, ndeso banget ya ngga bisa bahasa inggris. Orang-orang Jogja-Solo saja bahasa Inggris-nya pinter." Sampai sini saya tarik nafas sebentar, berharap pendapatku selanjutnya tidak mengandung emosi dan tetap jernih dalam betutur kata. Lalu saya sampaikan, "Iya memang ndeso banget nih Konya," saya memvalidasi kata-katanya berharap biar seneng dan diiyakan, walaupun agak ngenes, "Namanya juga kota kecil, population density (kepadatan penduduk) di Konya cuman 50 jiwa per km2, sedangkan Jakarta 14.000 jiwa per km2." Mungkin konya ini setara seperti kampung saya di Kulon Progo mbukit-nggunung sana dalam hatiku.

Thursday, October 16, 2014

Berenang di Club House Graha Taman Bintaro

Salaam...

Pintu Gerbang Utama Club House Graha Taman Bintaro


Beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan 2014 kemarin saya berencana untuk berenang bersama anak. Setelah pilah pilih tempat berenang yang memungkinkan di sekitar rumah, akhirnya kami memutuskan untuk berenang di Club House Graha Taman. Sebenarnya ada 4 tempat berenang lainnya di daerah Bintaro, tapi kami memilih yang paling dekat dan yang paling mudah aksesnya dari rumah dengan angkutan umum.

Saat hari itu tiba, saya mengajak serta adik perempuan, anak, dan pengasuh anak saya untuk ikut berenang ke tempat ini. Kami hanya perlu naik 1X angkutan umum (jurusan Jombang-Ciledug) untuk sampai tepat di depan pintu gerbang Club House Graha Taman. Waktu sampai, rasanya senang sekali karena sudah lama tidak berenang.. hihi...

Monday, September 8, 2014

Resep Sayur Lodeh ala Perantauan di Konya

Merhaba..!. Assalaammu'alaikuum..

Ini adalah pertama kalinya saya masak sayur lodeh di Konya. Masih mengandalkan bumbu instan yang dibawa dari Indonesia. Alhamdulillaah sedaap dan mantap rasannya. Jadi semangat kalau mau masak lagi. :D

Resep sayur lodeh ini juga bisa dipraktekkan untuk pembaca sekalian yang sedang di perantauan, anak kostan, atau yang belum bisa nguleg bumbu sendiri. Berikut bahan-bahan yang harus disiapkan:

Saturday, June 28, 2014

Catatan Berrumah Tangga - Turbulensi

Bismillaah...


Kakak dari ibu saya suatu hari menginap di rumah. Bude, begitu aku memanggilnya. Usianya 65 tahun, masih sehat, dan tidak berkacamata. Percakapannya sehari-hari di rumah bersamaku menjadikanku lebih mengenal pribadi Bude saat ini. Aktivitasnya sehari-hari ia gunakan untuk banyak menuntut ilmu agama dan beribadah. Ia mengikuti kajian islam 4X dalam seminggu dan menjadi penanggung jawab majelis ta'lim di masjid samping rumahnya dengan jamaah 70-an orang ibu-ibu. MasyaAllaah... Sejenak aku mengaca pada diriku sendiri dalam menuntut ilmu agama yang masih jauh sekali dibandingkan dengan beliau.

Di rumah saat menginap, setengah jam sebelum adzan sholat ia sudah berwudhu, memakai mukena, dan duduk berdzikir di atas sajadahnya. Sholat rawatib selalu ia lakukan. Tahajjud selalu ia kerjakan. Pembawaannya tenang, santai, dan bijaksana.

Saturday, March 29, 2014

Pengalaman Mengurus Visa Turki Di Kedubes

Assalammu'alaikuum Wr. Wb.

Salam kepada para pembaca yang budiman. Sebagaimana judul tulisan ini saya akan memberikan informasi mengenai persyaratan apa saja yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin masuk (visa) ke negara Turki -- khusus dengan waktu lebih dari 30 hari (menetap).

Untuk para pembaca yang ingin berwisata ke negeri seribu menara ini dengan mendapatkan visa kunjungan kurang dari 30 hari, Pemerintah Turki memberlakukan beberapa cara yaitu dengan Visa-On-Arrival (saya singkat dengan VOA) dan E-Visa. VOA sebagaimana namanya bisa diurus di Atatturk Airport, İstanbul tanpa kita harus ke embassy untuk mengurusnya. Pemohon VOA di Bandara Atatturk İstanbul ini banyak sekali, antriannya mengular karena orang di seluruh dunia ingin datang ke kota ini (cerita tentang pengalaman ke Turki dengan VOA baca disini ya). Namun, per April 2014 VOA ini akan diganti dengan E-Visa yang lebih mengefisienkan waktu. Mengurus E-Visa ini seperti berbelanja via online, data-data dimasukkan dan dibayar online dengan kartu kredit. Approval akan diterima via e-mail. Anda bisa membaca blog Bapak Ardi berikut bagaimana dalam mengurus e-visa Turki. Untuk website E-Visa selengkapnya silakan browsing link ini www.evisa.gov.tr

Kembali pada topik utama, berikut ini saya tuliskan kembali persyaratan pengajuan visa dari dokumen yang saya dapatkan melalui Turkish Embassy:

Tuesday, March 4, 2014

Eksperimen Melukis Dengan Cat Air Buatan Sendiri


Hari itu saya sedang mencari inspirasi kegiatan bermain Aisya yang lebih variatif. Sebenarnya, saya lihat dia tidak bosan dengan kesibukannya sehari-hari -- nguprek-nguprek kulkas, jalan-jalan di teras sambil nyobain satu-satu sepatu neneknya, sendal oom-nya, dan pengasuhnya yang sering kebalik-balik, dan satu lagi naik turun tangga (ini yang bikin cape) -- tetapi saya mau mengenalkannya dengan sesuatu yang berbeda, supaya lebih banyak yang bisa dia eksplor.

Walhasil, dari googling sana kemari, saya dapat inspirasi untuk mengenalinya melukis dengan cat air rumahan (Homemade Watercolors). Inspirasi nya saya dapat dari website Tinker Lab. Raising Tomorrows Creative Thinkers, itu slogan webnya. Keren yah! Sebenarnya banyak web-web serupa, seperti The Imagination Tree, Mommy Labs, Hands On As We Grow, dan banyak yang lainnya lho Moms.. Muatan dari web-web tersebut mayoritas adalah variasi aktivitas bermanfaat untuk tumbuh kembang anak sesuai usianya.

Tuesday, February 25, 2014

Bagaimana Kami Mengajarkan Anak Buang Air di Toilet

Salam Mommies sekalian!

Kalau membahas Toilet Training (TT) dimasa-masa anak masih belum bisa SAMA SEKALI diajak pee dan pup di toilet, duh... jadi teringat saya pernah bertanya di dalam hati sendiri sembari melihat popok berbaris-baris terjemur dan belum kering juga, "Kapan ya anakku bisa ngomong dia mau pee dan pup ke toilet? Biar popoknya ngga kebanyakan yang dicuci...". Seperti pertanyaan berandai-andai rasanya. Tapi percayalah, saya pernah melewati masa itu dan Alhamdulillaah perlahan-lahan kami bisa melewatinya.

Saat ini, Aisya berusia 20 bulan (1 Tahun 8 Bulan). Dia masih dalam proses TT dan belum bisa saya katakan lulus sempurna. Namun, dalam keseharian di rumah, saya sudah lebih percaya diri untuk tidak memakaikannya pospak, clodi, atau insert. Jika tidur malam, alhamdulillaah, hampir setiap hari sudah tidak mengompol, dan hampir setiap kali ingin pup dia sudah bisa melapor "e-e!" dan sedikit-sedikit laporan juga kalau mau pee. Hee.. Memang untuk urusan pee (BAK) agak butuh sedikit ketelatenan karena frekuensinya lebih sering ketimbang pup (BAB).

Bagaimana cara kami bisa sampai ke tahap ini?

Friday, February 14, 2014

Scarf Project #2: Trinity Scarf

Yes! Alhamdulillaah... selesai juga project scarf ke-2 ini. Pegel2 nya mirip kayak pas merajut syal slip slope scarf buat suami.. benangnya pun sama... rasanya nunggu benangnya jadi kere begini seneng banget, artinya sedikit lagi selesai... hahay
Inspirasi stitchnya murni dari ngubek2 web NewStitchADay -Trinity Stitch. Awalnya dari trial error sama Moss stitch, tp serasa lebih lancar dgn tusuk sc3tog nya si Trinity Stitch.. mantaapp emang lancar dan cepet bikinnya..
Oiya, saya merajut syal ini dengan benang Caron Simply Soft 6 Oz (di-klik ya ada testimoni dari saya tentang benang ini....)
Oke happy crochet, arkadaşlar!!!!

-Zoom Trinity Stitch detail,, cantik kayak ada bintang2-

Finished! Not For Sale yaa...


NB: benang yang jadi "kere" maksudnya begini nih.. hihi.. kurus tp jadi pertanda baik sebentar lagi akan selesai. Sometimes, i really really enjoy this moment, watching my yarn shrinking and transform into another shape and beautifully functional art.

Wednesday, February 5, 2014

Testimoni: Caron Simply Soft 6 Oz

Caron Simply Soft 6 Oz adalah salah satu benang rajut impor favorit saya. Benang ini diproduksi di Amerika dengan komposisi 100% Akrilik. Pilihan warna-warnanya sangat banyak. Salah satu yang saya suka dari benang impor adalah, mereka punya label!
Yuk kita intip labelnya...


Dari keterangan label diatas, mari sama-sama kita bahas apa sih maksud yang tertera di dalamnya...

1. Dapat dicuci dan dikeringan dengan mesin cuci
2. Berat Bersih 170 gr (6 Ounces/Oz). Panjang 288 meter (315 yards)
3. "No Dye Lot" merujuk pada konteks pewarnaan benang, artinya tidak ada variasi warna antara batch satu dan batch lainnya saat diproduksi di pabrik. Maka, jika kita kehabisan benang dan harus membeli lagi tidak ada perubahan warna pada nomor batch yang berbeda. Untuk penjelasan lebih lanjut baca m.wisegeek.com/what-is-no-dye-lot-yarn.htm
4. Termasuk benang kategori #4-Worsted
5. Gauge dengan knit needle 5 mm adalah 4x4 inches atau 10x10 cm dengan 18 stitch dan 24 rows.
6. Menggunakan crochet Hook 5 mm
7. Machine wash, warm, gentle
8. Tidak boleh menggunakan pemutih
9. Tumble dry gentle low heat
10. Dry clean any solvent except trichloroetylene
11. Tidak boleh disetrika

Salah satu yang membuat saya suka dengan benang ini adalah karena isinya banyak; alias panjang. Selain itu, tekstur benangnya halus sebagaimana namanya - "Soft", sehingga tidak melukai jari saat dirajut. Benang ini berbulu, standar dan wajar sebagaimana benang akrilik pada umumnya. Project rajutan dengan benang ini akan terasa hangat, sehingga cocok untuk dibuat menjadi syal, selimut, arm/leg warmer, topi dingin, sweater. Beberapa kali saya membeli benang jenis ini dan tidak pernah mengecewakan. Saya pernah mendapati sambungan benang dengan ikatan di dalam gulungannya, tapi tidak masalah. Ketebalan benang seragam. Untuk yang baru pertama kali merajut Caron Simply Soft mungkin akan menemui kesulitan karena benangnya pecah, lilitan serat-seratnya terkadang terbuka dan menyangkut pada alat rajut, sehingga seringkali mengganggu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu akan terbiasa dan mudah kembali untuk dirajut. NB: saya membeli benang ini di Facebook Papiput Shop.

Semoga Bermanfaat yaahh..!
Wassalaam...

-Benang Caron dengan warna Bone-

Saturday, January 25, 2014

Cerita Di Balik "Fern Leaf Doily"

-The Doily is For Sale- please contact my facebook account for further information
Pernah satu waktu saya begitu
penasaran dengan benang rayon lokal. Saat itu saya memang sedang dalam masa belajar merajut, tepatnya bagaimana membaca pola. Setelah membaca testimoni dari teman-teman facebook yang pernah merajut benang jenis ini dan Online Shop yang  menjual benang tersebut saya jadi tertarik. Bagus untuk project wearable, baby project, taplak, sifatnya mengkilap, adem, jatuh, ply nya kecil, begitu kesan mereka. Tapi, memang yang namanya beli via online (waktu itu andalan saya hanya online shop untuk belanja kebutuhan merajut, karena toko offline terdekat tidak menjual benang itu) tetap tidak bisa kita indera secara langsung. Bayangan akan tekstur, serat, dan kekenyalan benang tidak bisa dirasakan. Alhasil, saya membeli benang rayon tersebut dengan berbekal niat membuat project wearable. Singkat cerita, 5 (lima) gulung benang rayon lokal akhirnya ada di tangan saya.
Penjajakan benang rayon-pun dimulai:
1. Saya mencoba membuat shawl, dengan 1 strand benang. Menyerah. Karena saya merasa terlalu licin dan terlalu jatuh. Walaupun tidak berat tapi jari terasa pegal dibuatnya.. weehhehehe..
2. Setelah berganti tahun, saya baru menyentuhnya kembali dan mencoba membuat cardigan, dengan 2 strands benang. Menyerah lagi dengan alasan yang sama dengan poin nomor 1.
3. Akhirnya pilihan tertuju pada project non-wearables yg tidak sulit: DOILY!!! Bulan berganti tahun, akhirnya berhasil menjadikannya Si "Fern Leaf Doily" dengan menghabiskan 1 gulung benang rayon saja. Dan sekarang belum ada niatan lagi untuk merajut benang rayon yang sisanya. Now, I think i'm not the fan of this yarn.. hmm..
Saya ingat sekali dengan Mbak VivinAnd Craft di Facebook. Beliau membuat berbagai macam cape orderan dengan benang rayon. >_<) TOP! Salut banget sama Mbak Vivin. Saya tanya, "pakai hook nomor berapa ya Mbak?" Karena saya merasa ngga enak terus ngerajutnya. Mbak Vivin bilang, "pakai nomor 1.75". Saat itu saya masih bingung 1.75 itu ukuran apa, amerika, jepang?? Dalam satuan milimeter atau yg lainnya. Haha.. makluum.. masih belajar. Ternyata setelah search di OlShop yang menjual Crochet Hook, ukuran yang dimaksud Mbak Vivin adalah 1.75 mm. Itu masuk dalam lace hook, dan lebih kecil daripada 1/0. Alamaaakk.. dulu sempat hands up untuk hook dibawah 1/0. At least, I have to try this!
Sebelumnya, project ini juga merupakan challenge pribadi, yaitu membuat doily dengan pattern tertulis. Kenapa? Karena 2 doily karya saya sebelumnya dibuat dengan pattern diagram. Nah, ini kesempatan bagus untuk menjajal pola tertulis... Inilah link pattern/pola tertulisnya:
Polanya cantik dan tidak membutuhkan stitch yang rumit. Lebih bagus lagi jika menggunakan benang katun dan di-blocking setelah selesai dirajut.
Doily/taplak ini saya buat dalam waktu kurang lebih 1 minggu dengan waktu pengerjaan 3 jam/hari.
Semoga Menginspirasi sahabat perajut semua!

Saturday, December 28, 2013

Scarf Project #1: Basketweave Stitch Scarf

Banyak sekali ide dan keinginan untuk merajut ini dan itu sampai-sampai kalau lihat benang beraneka ragam warna dan serat serasa tidak bisa mengendalikan diri :p. Mungkin sahabat-sahabat perajut juga sering mengalaminya. Maka dari itu, kita sebagai perajut perlu fokus dan memiliki target yang jelas tentang apa saja yang akan kita buat.
Nah, inilah yang saya lakukan agar fokus sebelum memulai menyelesaikan project scarf (dan juga untuk project lainnya). Pertama, saya menentukan terlebih dulu untuk siapa project rajutan ini dibuat. Setelah itu, pemilihan serat benang berikut dengan warnanya. Dan yang terakhir, menentukan pattern atau stitch yang akan digunakan/diaplikasikan untuk merajut.
Scarf ini akan saya dedikasikan untuk suami saya. Setelah hunting benang yang lumayan lama akhirnya saya jatuh hati dengan benang ALİZE LANAGOLD BATIK. Belinya via online di Facebook, kalau mau beli atau lihat-lihat silakan cek langsung di Fan Page Jual Benang Rajut Impor. Olshop itu mayoritas menjual benang ALİZE, salah satu brand benang rajut asal Turki. Komposisi seratnya (Lanagold Batik) adalah 51% Acrylic dan 49% Wool jadi lumayan hangat untuk dirajut sebagai scarf. Saya memilih warna-warna kombinasi yang disukai suami saya, antara lain: hitam, abu-abu muda & tua, serta cokelat muda & tua, nampak netral untuk dipakai pada pakaian warna apapun. Untuk testimoni selengkapnya tentang benang ALİZE ini mari singgah ke postingan blog saya sebelumnya di sini.
Melanjutkan pembicaraan tentang scarf project, setelah benang ada di tangan, selanjutnya adalah pemilihan pattern atau stitch. Saya sempat mencoba stockinette stitch dengan teknik crochet pada benang ini, dan ternyata hanya bertahan 2 rows. Selain itu, saya merasa aneh juga dengan hasil rajutan tersebut (crochet stockinette), sehingga saya rombak. Sampai akhirnya pilihan saya jatuh pada Basketweave Stitch.
Ini adalah pertama kalinya saya menjajal basketweave stitch yang merupakan salah satu jenis tusuk rajutan dengan aplikasi front/back post secara lurus. Saya mengikuti pola tusukan ini yang ada pada link berikut. Setelah browsing pattern-pattern tentang basketweave stitch ternyata cukup beraneka ragam jenisnya. Variasinya terletak pada jumlah post dan row yang diaplikasikan.
Yap, setelah proses merajut selama seminggu lamanya (dengan crochet hour yang mayoritas hanya pada malam hari, kira-kira 2 jam,, karena nunggu anak tidur terlelap lebih dulu :p), akhirnya syal saya jadi juga. Sayangnya, 2 gulung benang ALİZE Lanagold ini tidak menghasilkan project yang saya rencanakan, yaitu: 1 syal dan 1 topi, tetapi hanya jadi 1 syal yang pendek (Panjang 90 cm, Lebar 20 cm, dengan Hook 4.5 mm). Dari pengalaman ini saya jadi tahu bahwa basketweave stitch sangat yarn-consuming alias boros benang sekali... fiuhhh... but thats not a big deal... :D
Saya akan akalin untuk menambahkan kancing agar syal nya bisa rapat saat dipakai. Ternyata it look gorgeous too! Saya lihat di Etsy Store banyak juga lho syal dengan kancing...
Okay, "Scarf Project #1" DONE!!!
The Next Project is "Scarf Project #2". Tunggu postingan-nya ya, karena sedang dirajut, dan akan ada Testimoni benangnya juga.
Terima Kasih untuk mampir membaca....!
Wassalam...
~ perlu tambahan kancing nih biar syalnya rapat tertutup dan rapi ~




~ This is my sister :D using Basketweave Stitch Scarf. Thank You for being my model yaa.. ~

Thursday, December 26, 2013

Testimoni: ALİZE Lanagold Batik

Salam! Dan Hai sahabat-sahabat perajut Indonesia dimanapun Anda berada! :)

Kali ini saya akan menuliskan testimoni tentang salah satu benang impor yang pernah saya rajut. Ini dia ALİZE LANAGOLD BATIK....

--Foto taken by Kiki, from
"Jual Benang Rajut Impor" FB Fan Page--

Inilah informasi tentang properti benang yang tertulis pada label-nya:

51% Acrylic, 49% Wool
100 gr - 3.53 Oz.
240 m - 262 yds
Needle: 4mm - 6 mm

Secara fisik, benang ini terasa empuk, lilitan benangnya tidak mudah pecah, seratnya berbulu layaknya benang akrilik, tetapi tidak banyak. Saat saya merombak rajutan dengan benang ini, bulu-bulunya tidak berterbangan dan tidak mudah tergerus gesekan. Benang ini juga tidak mengkilap.

Ketebalan benang disepanjang gulungan tidak seragam. Saya menemukan ada ketebalan benang chunky dan worsted di dalamnya. Memang dalam label informasi ply benang tidak ditemukan jenis benang apakah ini, tetapi ada informasi rentang ukuran pemakaian needle.

Saya menemukan adanya sambungan benang di dalam salah satu gulungannya (waktu itu saya memiliki 2 gulung), tetapi tidak menjadi masalah karena seratnya masih rapih (saya tidak perlu merapihkannya, karena ada jenis benang rajut yang saya miliki sambungannya amburadul sekali) dan masih mengikuti urutan warnanya.

Kombinasi warna batiknya seragam. Bila dirajut, maka warnanya akan urut (Self Striping). Hasil rajutan dengan benang ini terasa hangat, cocok untuk project sweater, syal, atau winter-set lainnya.

Itulah testimoni saya. Sejauh ini saya puas dengan benangnya dan tidak mengecewakan. Mudah-mudahan memberi informasi kepada Sahabat Perajut sekalian ya...

Terima Kasih!

To-Do-List: My Crochet Project For 2014

Assalammu'alaikum, dan Hai teman-teman pecinta merajut! Perkenalkan, saya Ghandes, and this is my first blog post as a crochetter. :)

Saya sudah merenda (crochet) sejak akhir November 2011, belajar sendiri/otodidak lewat youtube dan berbagai macam website tentang crochet. Sungguh, internet itu banyak sekali memberi ilmu dan manfaat jika kita memberdayakannya dengan benar.

Saat ini saya memiliki to-do-list crochet project untuk dipakai oleh suami, anak, dan saya sendiri. Rencana untuk tinggal di Turki pada pertengahan tahun 2014 adalah salah satu semangat tersendiri untuk mempersiapkan project-project tersebut. Alasannya, apalagi kalau bukan karena iklim 4 musimnya, terutama adanya musim dingin bersalju dan musim gugur. Mayoritas project yang akan dibuat adalah sekitar winter-set, seperti topi dan scarf (syal) atau cowl. Terpikir juga untuk membuat yang lainnya, seperti: mittens, leg warmer, dan capelet, tetapi syal dan topi sepertinya masih menjadi prioritas utama.

Selain winter-set, saya juga punya beberapa project yang ingin diselesaikan, seperti rajut jala, dan masih banyak juga gulungan benang-benang polyster, benang rayon, dan benang katun panda. Fiuhhh... baru terasa sekarang saya membeli benang terlalu banyak. :(

Tapi... Mari Tetap berpikir Positif dan Keep Productive! InsyaAllaah akan ada jalan menyelesaikan itu semua sebelum berangkat ke Turki (atau malah akan dibawa ke Turki benang-benang itu yaa...) :D

Okay, inilah my to-do-list crochet project for 2014:

1. Empat (4) buah scarf/cowl projects
2. Empat (4) buah topi
3. Dua (2) Tote Bag besar dengan teknik Rajut Jala
4. Satu (1) Wearable (pakaian)
5. Dua (2) Tas/Dompet dengan Benang Polyster

~Inilah benang-benang yang akan saya rajut sebagai winter-set. Ada benang bulky lokal, caron, akrilik, dan Orchid~


~ini benang polyster lokal yang siap dieksekusi untuk dijadikan tas dan dompet, warnanya gonjreng yee.. hihi~

Ada pula 6 gulung Benang Katun Panda dan 5 gulung Benang Rayon Lokal yang belum difoto. :)

Oke sampai disini dulu sharingnya.. Tunggu postingan saya selanjutnya tentang progress to-do-list project nya dan testimoni benang yang saya pakai...

Terima Kasih!
Wassalammu'alaikuum..