Tuesday, January 20, 2015
Mengapa Harus Ada Sekolah Unggulan?
Pak Haryo menjelaskan layaknya dosen S1, dan seperti anak yang masih cetek pikirannya, saya seperti diberi opini-opini baru olehnya. Ia menerangkan sekolah sebagai suatu mekanisme proses pembelajaran dengan input manusia-tak-tahu lalu menghasilkan output manusia-tahu. Lalu beliau memberikan pengandaian suatu pabrik kain. Dalam alur produksi kain, untuk menghasilkan output kain-kain berkualitas, maka kita memerlukan input kapas dan serat-serat berkualitas tinggi ditambah dengan teknologi mesin pemintal dan tenun mutkahir. Ya, tentu saja saya sangat setuju dan mengangguk saat itu. Tak ada yang meragukan pernyataannya. Penjelasannya berlanjut, "Lalu apakah manusia seperti itu? Apakah sekolah seperti pabrik kain?". Kalau dipikir memang sekolah seperti pabrik, "pabrik pemikiran", tetapi alurnya tidak bisa disamakan.
Unggulan menurutnya terletak pada proses pendidikan itu sendiri. Bukan input manusianya. Jadi sekolah unggulan seharusnya mampu memproses, mendidik, menggembleng berbagai macam input jenis manusia menjadi output manusia yang unggul. Kalau perlu dikatakan, sekolah yang paling unggul adalah sekolah yang memiliki siswa-siswi yang tidak pintar, untuk selanjutnya dididik menjadi pintar atau bahkan unggul. Bukankah begitu gunanya sekolah? Untuk mendidik. Lalu kalau ada sekolahan mengambil anak-anak yang sudah pintar, itu namanya bukan sekolahan. Sekolah itu hanya cari laba dari anak-anak pintar. Laba dalam artian kekayaan intelektual siswa-siswinya maupun uang. Alih-alih menjadi lebih unggul dan excellent, mereka - yang sudah pintar ini - justru terhambat kecerdasannya dan bahkan menjadi "bodoh" di sekolahnya.
Wah, benar juga ya.. Tak pernah terpikir oleh saya tentang hal ini. Too good to be true sepertinya, seperti tak mungkin ada sekolah seperti itu. Butuh gembelengan dan didikan dengan cara khusus dan berbeda dari biasanya. Seandainya ada sebuah sekolah atau setidaknya sebuah proses pendidikan di Indonesia yang bisa menggembleng anak-anak dari Sabang sampai Merauke menjadi sama unggulnya, maka tidak ada lagi anak kota yang lebih pintar dari anak pedalaman. Semua sama unggulnya.
Saya jadi teringat sebuah film Jepang berjudul "Gokusen". Film ini ber-genre drama dan komedi dan sangat inspiratif sekali. Bercerita tentang seorang anak wanita dari sebuah keluarga Yakuza (mafia jepang) yang tidak mau meneruskan pekerjaan keluarganya sebagai mafia, tetapi ia memutuskan untuk menjadi guru SMA. Ia ditempatkan pada sekolah anak-anak nakal dan bandel, sering bolos sekolah, berkali-kali tidak naik kelas, suka tawuran, nilai selalu buruk, dan lulusannya tidak pernah diterima di universitas terbaik di Jepang. Tentunya sekolah tersebut bukanlah sekolah unggulan. Namun dengan kerja kerasnya, karakternya yang kuat, gigih, dan mau ikut menyelesaikan masalah muridnya satu per satu, bahkan ikut tawuran melawan geng rival sekolah tersebut karena memang pintar bela diri, akhirnya murid-murid didikannya menjadi berprestasi, lulus seluruhnya, dan mampu mengantarkan mereka merealisasikan harapannya yang dahulu dipikir sangat tidak mungkin. Inspiratif bukan?
Begitu banyak harapan akan guru berkarakter kuat seperti tokoh utama pada film tersebut di Indonesia. Di SMA saya dahulu saja ada guru yang malas mengajar. Masuk kelas hanya memberi tugas membuat teka teki silang - padahal itu pelajaran biologi - lalu kami diminta untuk mengumpulkan tugas tersebut pada pertemuan berikutnya, selepas itu guru tersebut pergi lagi. Ya, pergi, jadi beliau hanya datang untuk beri tugas, tidak mengajar. Ah, dimana unggulannya? Sulit rasanya karena ini masalah karakter, tapi saya masih optimis, karena beberapa pendidik di Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Seperti contohnya, Bapak Yohannes Surya, penggembleng anak-anak calon peserta olimpiade fisika internasional itu pernah mendidik beberapa anak papua yang setiap hari main di hutan dengan pakaian ala-kadarnya menjadi pemenang olimpiade fisika (beritanya bisa Anda simak dalam laman Republika berikut).
Friday, January 9, 2015
Suriye Misin? - Apa Kamu Orang Suriah?
Namun ada juga ibu-ibu lain yang saya sapa dan membalas sapaan saya. Anehnya, mereka kerap kali memulai pertanyaannya dengan, "Suriyeli?" / "Surie?"- "Apa kamu orang Suriah?" / "Suriah?". Bahkan pegawai kasir supermarket di dekat rumah-pun bertanya seperti itu juga. Wah.. wah.. apakah wajah saya yg sawo matang dan hidung berjongkok ini tidak cukup untuk menjawab ya? hehe.. Syukurlah ada yg mengira saya orang Malaysia; yang artinya hampir tepat, walaupun ada pula yang menebak Cina, Jepang, TTarTar, dan Kazaksthan.
Teman saya yang sedang kuliah tingkat akhir di Konya, sebut saja namanya Mbak Sholih, kemarin bercerita saat makan bersama di rumah. Ternyata baru beberapa tahun belakangan ini saja penerimaan warga Konya terhadap para yabancı (orang asing) itu kurang ramah. Padahal (aslinya) orang Turki itu sangat ramah terhadap musafir atau pendatang. Namun, sejak mulainya gelombang besar imigran Suriah ke Turki, sekitar tahun 2011, tidak demikian lagi halnya. Begitu ujarnya.
Saya jadi mengerti mengapa banyak yang bertanya apakah saya orang Suriah atau bukan, karena saat ini orang turki hanya mengenal para yabancı itu 'suriah' atau 'bukan-suriah'. Sebagai gambaran saja, imigran Suriah itu ada 1.6 juta orang di Turki. Ini setara dengan 16 kali kapasitas Stadion GBK Jakarta. Jumlah yang fantastis, bukan?
Kewajiban sebagai tuan rumah (Turki) bahwa imigran Suriah itu perlu dibantu adalah sangat benar. Namun, kenyataan sepertinya tidak berkata demikian. Para imigran Suriah ini bukan lagi "dianggap" sebagai musafir, mereka datang sebagai tamu yang "tidak mau" pulang - karena situasi dan kondisi negara Suriah yang belum kondusif pasca perang, yang akhirnya mau-tidak-mau harus hidup menetap bersama. Sayangnya, efek yang muncul di permukaan dari kejadian ini lebih banyak sentimen negatif daripada positifnya. Banyak efek sosial yang terjadi. Sebagai contoh saja, dulu warga Turki dilarang berjualan di pinggir jalan oleh pemerintah, tetapi sekarang banyak imigran Suriah yang melakukannya dan tidak didenda oleh pemerintah. Di satu sisi mereka (para imigran) perlu bekerja dan tetap mendapatkan penghasilan, tetapi berbenturan dengan peraturan. Cerita lainnya, ada orang-orang Suriah yang tidur di taman-taman umum karena tidak memiliki tempat tinggal. Beberapa diantara mereka ada yang merusak dan mengotori fasilitas atau tempat umum, ada pula yang menjadi pengemis, bahkan pencuri.
Walaupun demikian, saya yakin masih banyak orang-orang Suriah yang baik, mau menjaga tata krama, dan ketertiban di negara Turki ini. Seperti salah satu keluarga Suriah yang tinggal tidak jauh dari apartemen kami. Mereka ada keluarga terpelajar, rumahnya bersih dan rapih, dan agama islamnya kuat. Saya juga pernah diceritakan, ada orang Suriah yang menjadi guru bahasa Turki di tempat kursus di pusat kota.
Mungkin kejadian ini sebagaimana ada dalam pepatah Indonesia; "karena nila setitik rusak susu sebelanga". Hanya karena kesalahan kecil yang nampak seluruhnya menjadi rusak dan kacau.
Thursday, January 8, 2015
A Housewife Check-List: Persiapan Untuk Tinggal Di Luar Negeri
“Pindahan”, satu kata itu selalu membuat kita sibuk dan lelah. Betapa tidak, proses sejak mencari rumah, apartemen, atau kost baru, men-survei-nya, hingga deal dengan pemilik-nya itu membutuhkan waktu, dana, dan energi yang tidak sedikit. Setelah deal, kita perlu boyongan barang-barang dari tempat awal ke rumah/kost/apartemen yang baru. Ada yang bawa truk pick-up kecil, ada yang pakai truk besar, mobil pribadi, atau hanya taksi, tetap boyongan itu tidak bisa dihindari. Belum lagi suka-duka beradaptasi hidup di tempat baru tersebut, bertemu dengan tetangga baru, teman kost baru, dan lingkungan yang begitu berbeda. Walaupun begitu, ada suatu keasyikan atau gairah tersendiri yang dirasakan karena akan bertemu dengan suasana yang sangat berbeda. Selain itu, “pindahan” ini akan menjadi hal yang mengesankan dalam hidup karena hanya sesekali saja kita melakukannya – seumur hidup kita mungkin bisa dihitung dengan jari. Saya sendiri baru melakukannya 3 kali, yaitu; 1) saat pertama kali kost di Depok untuk kuliah S1 dan kembali lagi ke rumah orang tua 4.5 tahun kemudian, 2) saat tinggal di rumah kontrakan baru selepas menikah dan akhirnya kembali lagi ke rumah orang tua, dan 3) saat pindah ke Turki menemani suami studi S3. Wah, pindah ke Turki, bagaimana persiapannya? Nah, topik tentang “pindahan” ke luar negeri inilah yang akan saya bahas pada artikel kali ini. Pindahan kali ini kita bukan lagi membicarakan mengendarai mobil, truk, atau taksi, melainkan menggunakan pesawat terbang. Apa saja yang perlu dipersiapkan?
![]() |
| Buatlah Check-List Untuk Pindahan Anda |
Thursday, January 1, 2015
Resep Lumpia Isi Ragout Praktis
Sunday, October 26, 2014
Saya, Kamu, Kita Ndeso! Yes!
Oke balik lagi soal tingkat ke-ndeso-an. Awalnya saya ditanya oleh orang tersebut, "Apa orang-orang Turki di sana bisa bahasa Inggris?". Saya jawab bahwa mayoritas orang-orang Turki di Konya berbahasa Turki, sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris. Kalau daerah metropolitan seperti İstanbul atau Ankara mungkin banyak yang bisa bahasa Inggris, karena selain kota besar di sana juga kota pariwisata. Jawabanku langsung disambut dengan timpalan yang mengagetkan, "Wah, ndeso banget ya ngga bisa bahasa inggris. Orang-orang Jogja-Solo saja bahasa Inggris-nya pinter." Sampai sini saya tarik nafas sebentar, berharap pendapatku selanjutnya tidak mengandung emosi dan tetap jernih dalam betutur kata. Lalu saya sampaikan, "Iya memang ndeso banget nih Konya," saya memvalidasi kata-katanya berharap biar seneng dan diiyakan, walaupun agak ngenes, "Namanya juga kota kecil, population density (kepadatan penduduk) di Konya cuman 50 jiwa per km2, sedangkan Jakarta 14.000 jiwa per km2." Mungkin konya ini setara seperti kampung saya di Kulon Progo mbukit-nggunung sana dalam hatiku.
Thursday, October 16, 2014
Berenang di Club House Graha Taman Bintaro
Monday, September 8, 2014
Resep Sayur Lodeh ala Perantauan di Konya
Resep sayur lodeh ini juga bisa dipraktekkan untuk pembaca sekalian yang sedang di perantauan, anak kostan, atau yang belum bisa nguleg bumbu sendiri. Berikut bahan-bahan yang harus disiapkan:
Saturday, June 28, 2014
Catatan Berrumah Tangga - Turbulensi
Saturday, March 29, 2014
Pengalaman Mengurus Visa Turki Di Kedubes
Tuesday, March 4, 2014
Eksperimen Melukis Dengan Cat Air Buatan Sendiri
Tuesday, February 25, 2014
Bagaimana Kami Mengajarkan Anak Buang Air di Toilet
Friday, February 14, 2014
Scarf Project #2: Trinity Scarf
Wednesday, February 5, 2014
Testimoni: Caron Simply Soft 6 Oz
Saturday, January 25, 2014
Cerita Di Balik "Fern Leaf Doily"
penasaran dengan benang rayon lokal. Saat itu saya memang sedang dalam masa belajar merajut, tepatnya bagaimana membaca pola. Setelah membaca testimoni dari teman-teman facebook yang pernah merajut benang jenis ini dan Online Shop yang menjual benang tersebut saya jadi tertarik. Bagus untuk project wearable, baby project, taplak, sifatnya mengkilap, adem, jatuh, ply nya kecil, begitu kesan mereka. Tapi, memang yang namanya beli via online (waktu itu andalan saya hanya online shop untuk belanja kebutuhan merajut, karena toko offline terdekat tidak menjual benang itu) tetap tidak bisa kita indera secara langsung. Bayangan akan tekstur, serat, dan kekenyalan benang tidak bisa dirasakan. Alhasil, saya membeli benang rayon tersebut dengan berbekal niat membuat project wearable. Singkat cerita, 5 (lima) gulung benang rayon lokal akhirnya ada di tangan saya.
Saturday, December 28, 2013
Scarf Project #1: Basketweave Stitch Scarf
The Next Project is "Scarf Project #2". Tunggu postingan-nya ya, karena sedang dirajut, dan akan ada Testimoni benangnya juga.
Wassalam...
Thursday, December 26, 2013
Testimoni: ALİZE Lanagold Batik
To-Do-List: My Crochet Project For 2014
Assalammu'alaikum, dan Hai teman-teman pecinta merajut! Perkenalkan, saya Ghandes, and this is my first blog post as a crochetter. :)
Saya sudah merenda (crochet) sejak akhir November 2011, belajar sendiri/otodidak lewat youtube dan berbagai macam website tentang crochet. Sungguh, internet itu banyak sekali memberi ilmu dan manfaat jika kita memberdayakannya dengan benar.
Saat ini saya memiliki to-do-list crochet project untuk dipakai oleh suami, anak, dan saya sendiri. Rencana untuk tinggal di Turki pada pertengahan tahun 2014 adalah salah satu semangat tersendiri untuk mempersiapkan project-project tersebut. Alasannya, apalagi kalau bukan karena iklim 4 musimnya, terutama adanya musim dingin bersalju dan musim gugur. Mayoritas project yang akan dibuat adalah sekitar winter-set, seperti topi dan scarf (syal) atau cowl. Terpikir juga untuk membuat yang lainnya, seperti: mittens, leg warmer, dan capelet, tetapi syal dan topi sepertinya masih menjadi prioritas utama.
Selain winter-set, saya juga punya beberapa project yang ingin diselesaikan, seperti rajut jala, dan masih banyak juga gulungan benang-benang polyster, benang rayon, dan benang katun panda. Fiuhhh... baru terasa sekarang saya membeli benang terlalu banyak. :(
Tapi... Mari Tetap berpikir Positif dan Keep Productive! InsyaAllaah akan ada jalan menyelesaikan itu semua sebelum berangkat ke Turki (atau malah akan dibawa ke Turki benang-benang itu yaa...) :D
Okay, inilah my to-do-list crochet project for 2014:
1. Empat (4) buah scarf/cowl projects
2. Empat (4) buah topi
3. Dua (2) Tote Bag besar dengan teknik Rajut Jala
4. Satu (1) Wearable (pakaian)
5. Dua (2) Tas/Dompet dengan Benang Polyster




